7 Oktober 2026 | 20.00–22.00 WIB
Jatireja, di salah satu rumah kawan
Malam itu kami berkumpul.
Bukan di hotel, bukan di kafe, apalagi di tempat mewah. Hanya di salah satu rumah kawan di Jatireja.
Agenda sederhana: ngaji bareng.
Ada tilawah, dzikir, membaca taklimat, lalu menyimak materi tarbiyah. Suasananya tenang, hangat, dan penuh kebersamaan.
Di meja tersedia hidangan sederhana: tempe goreng, tahu goreng, pisang rebus, teh hangat, es sirup. Ada juga yang datang membawa kopi dari rumah.
Sederhana, tapi justru di situlah nikmatnya.
Sampai kemudian...
TIBA-TIBA... LAMPU PADAM!
Ruangan mendadak gelap.
Tapi ternyata, yang padam hanya lampunya.
Semangat berkumpul dan mengobrol ternyata tidak ikut padam.
Agenda pun berlanjut dengan suasana yang berbeda.
Obrolan menjadi lebih cair.
Curhat bapak-bapak milenial mulai mengalir.
Tentang kehidupan.
Tentang keluarga.
Tentang dakwah.
Tentang perjuangan.
Tentang berbagai hal yang kadang hanya bisa dibicarakan ketika suasana benar-benar santai.
Malam itu kami belajar satu hal:
Tarbiyah tidak selalu harus berlangsung dalam suasana formal. Kadang, dalam gelapnya ruang dan hangatnya secangkir teh, justru lahir obrolan yang lebih jujur dan menguatkan.
Lampu boleh mati.
Kopi boleh tinggal ampas.
Tempe dan tahu boleh habis.
Tapi semoga ukhuwah, semangat belajar, dan langkah dalam kebaikan tidak pernah padam.
Karena ternyata...
yang membuat malam itu terang bukan lampu, tapi kebersamaan.
- Ayo kita ngaji..!
- Ayo kita Liqo..!
***
0 Response to "MATI LAMPU, TAPI NGJI TAK IKUT PADAM "
Posting Komentar
Tinggalkan Pesan Anda: